Permasalahan yang dikemukakan adalah :
- Tantangan-tantangan apa yang dihadapi dalam upaya konservasi tanah dan air
- Bagaimanakah upaya untuk mengatasi terjadinya tumpang tindih organisasi/institusi yang menangani konservasi tanah dan air di Indonesia.
- Bagaimana lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia memiliki kepedulian terhadap konservasi tanah di Indonesia
- Bagaimana Perbandingan Program pengelolaan konservasi tanah dan air di negara tetangga seperti Philipina.
Konservasi Tanah dan Air
Tanah menurut pengertian sehari-hari dan pengertian pada umumnya ialah tempat untuk berpijak makhluk hidup yang terdapat di darat, fondasi tempat tinggal, dan sebagainya.
Sedangkan menurut pengertian Secara ilmiah, tanah juga dapat diartikan "merupakan media tempat tumbuh tanaman. Menurut Simmonson (1957), tanah adalah permukaan lahan yang menutupi kerak bumi kecuali di tempat-tempat berlereng terjal, puncak-puncak pegunungan, daerah salju abadi.
Sedangkan menurut Soil Survey Staff (1973), tanah adalah kumpulan tubuh alami pada permukaan bumi yang dapat berubah atau dibuat oleh manusia dari penyusun-penyusunnya, yang meliputi bahan organik yang sesuai bagi perkembangan akar tanaman.
Menurut Sitanala Arsyad (1989), konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang erat dengan konservasi air.
Berbeda lagi dengan kaitanya funsi Tanah sebagai komponen utama dalam usaha tani yang harus dipelihara, dimodifikasi bila perlu, sangat mempengaruhi produksi dan penampilan tanaman. Berdasarkan Usaha serta konservasi tanah dan air dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode
yaitu :
1. Metode vegetatif, menggunakan tanaman sebagai sarana
2. Metode mekanik, menggunakan tanah, batu dan lain-lain sebagai sarana.
Tantangan yang berat di Indonesia adalah luas wilayah Indonesia yang tidak kurang dari 195 juta hektar, dan diperkirakan 147 juta hektar atau 76 persen merupakan hutan dalam program penghutanan kembali dan rehabilitasi lahan, terdapat tidak kurang dari 80 area watershed, dimana 36 buah diantaranya mendapat prioritas Sasaran Utama Investasi Bank Dunia Bank Dunia telah menjadi pendukung aktif upaya-upaya pemerintah Indonesia dalam proyek konservasi tanah.
Selain lebih 15 tahun, bank ini juga telah mendukung 4 proyek dengan total biaya lebih dari U$ 100 juta (Laporan Bank Dunia, 1990) dan kini sedang melakukan kerjasama dengan Pemerintah dalam Proyek Konservasi Nasional dan Manajemen Daerah Aliran Sungai yang mungkin memerlukan pinjaman sebesar U$ 60 juta lebih. Bank tersebut akan terus membantu Indonesia untuk berfokus kepada tujuan konservasinya dan menginvestasikana secara lebih efektif, termasuk turus berperan serta dalam implementasi ilmiahnya.
Untuk mengulas sedikit sejarah bahwa Pada masa yang lalu Bank Dunia telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia terutama dengan melalui proyek-proyek seperti Proyek Pengembangan yang terdapat pada Pedesaan Yogyakarta juga Proyek Pertanian Dataran Tinggi dengan Konservasi serta Proyek Wonogiri.
Semua Proyek tersebut umumnya dapat dikatakan sukses dan layak ditinjau dari sifat eksperimental intervensi tersebut, dimana Pemerintah dan Bank Dunia tengah mencoba untuk dapat menetapkan serta memperbaiki cara-cara bekerja dengan masyarakat desa, Dengan melalui dan untuk mengidentifikasi serta mendaur ulang teknologi, mengorganisir juga mengkoordinasi agensi-agensi dengan merencanakan fungsi-fungsinya.
Ketika Bangsa Indonesia telah beralih dimana untuk menjadi desentralisasi, Pemerintah dan Bank Dunia harus mengeksplorasikan beberapa metode pendekatan baru yang dapat untuk memanfaatkan melalui sumber daya yang diberikan oleh Bank untuk mendukung proyek konservasi tersebut.
Bangsa Indonesia tidak seperti beberapa negara-negara sedang berkembang lainnya. Indonesia kini merupakan tempat dimana berbagai program konservasi tanah nasional menjadi prioritas penting Inpres yang berupa Penghijauan dan Penghutanan kembali yang telah berlangsung selama 18 tahun dan kini telah menghasilkan sumber daya kepada pemerintah daerah setempat melalui pemerintah pusat.
Model Program Pengelolaan Tanah dan Air di Philipina Kebanyakan perekonomian di Asia bersumber dari sektor pertanian yang rata-rata 70 persen masyarakatnya bergantung pada hasil pertanian. Untuk itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan hasil pertanian.
Salah satu adalah Philipina, negara yang berpenduduk 60 juta jiwa, namun tidak semuanya mengolah
pertanian. Negara ini terasa kurang mampu mengatur secara efisien penggunaan hasil pertanian, tanah dan sumber air.
Partisipasi lembaga penelitian teknologi pengelolaan tanah dan konservasi aor belum berfungsi secara optimal. Ketika Negara Philipina ikut dalam acara seminar “The Asian Travelling Seminar On Institusion Building”, Arturo Tanco mengatakan bahwa nilai pusat penelitian terletak pada perencanaannya dan hubungan lembaganya (pengorganisasian).
Setelah itu Panitia Panel Executive President untuk perkembangan sistem penelitian pertanian nasional membentuk penyelidikan dan evaluasi terhadap program penelitian yang sudah ada dan sumbernya. Selain itu, juga menggambarkan rekomendasi kebijaksanaan untuk perkembangan sistem penelitian pertanian nasional serta penyelidikan arus untuk pengaliran dana ke sumbernya dengan solusi memformulasikan kembali keseluruhan dari program penelitian untuk negara.
Swasembada ~ Usaha tani Untuk hasil Pertanian yang ideal ~ Proyek Watershed
Budi daya jagung ~ 8 Kunci Budi Daya jagung hibrida Bisi / Kondisi Ideal tanah ~ Wonogiri berbagi
Swasembada ~ Usaha tani Untuk hasil Pertanian yang ideal ~ Proyek Watershed
Budi daya jagung ~ 8 Kunci Budi Daya jagung hibrida Bisi / Kondisi Ideal tanah ~ Wonogiri berbagi

Komentar
Posting Komentar